Taubat.
Taubat, secara bahasa, bermakna kembali. Menurut istilah, taubat adalah kembali mendekat kepada Allah swt setelah menjauh dari-Nya. Hakikat taubat adalah penyesalan terhadap perbuatan dosa yang dilakukan dan mempunyai komitmen kuat, untuk tidak mengulangi di masa yang akan datang. Inilah yang disebut ‘taubat nasuha’ (taubat an-nashuha), dan Allah swt memerintahkan kita untuk melakukan pertaubatan jenis ini. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai” (QS at-tahrim [66]:8)
Bertaubat adalah keniscayaan bagi setiap muslim. Tidak ada seorang muslim-pun mampu bebas dari perbuatan dosa. Karena itu, bertaubat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jangankan orang biasa seperti kita, manusia-manusia pilihan Allah swt saja masih bisa terjerumus dalam perbuatan dosa.
Al-Qur’an memberi tahu kita tentang pertaubatan yang dilakukan oleh para nabi.
Pertama, Taubat yang dilakukan oleh nabi Adam as setelah makan buah pohon khuldi. Setelah makan buah terlarang ini, Nabi Adam pun bertaubat (lihat, QS Thaha [20]: 121-122).
Kedua, Taubat Nabi Musa as setelah beliau memukul seseorang dan orang itu meninggal dunia. Nabi Musa as sadar bahwa perbuatannya termasuk perbuatan setan dan akhirnya beliau-pun bertaubat (lihat QS al-Qashash [28]: 15-16).
Ketiga, taubat Nabi Daud as ketika beliau memutuskan hukum yang merugikan pihak lain, karena tidak meneliti secara mendalam saat mengambil keputusan. Setelah nabi Daud mengetahui kesalahannya,
beleiaupun menyungkur sujud dan melafalkan kalimat taubat. “…Maka ia meminta ampu kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat,” (QS Shad [38]: 24).
Kutipan hikayat pertaubatan Nabi Adam as, Nabi Musa as dan Nabi Daud as ini diketengahkan sebagai contoh bahwa tidak ada seorang manusia pun yang 100% suci dari kesalahan dan perbuatan dosa. Karena itu, perbuatan salah dan dosa janganlah membuat kita pesimis untuk bisa merengkuh nikmatnya surga.
Selama kita masih bisa menyungkur sujud, hati dan lisan kita sungguh-sungguh melapalkan taubat, dan kita mempunyai tekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang, pintu surga masih terbuka
lebar bagi kita semua karena Allah maha pengampun. Dalam hadits dinyatakan bahwa rahmat Allah swt mendahului murka-Nya.
Semoga kita selalu dibimbing Allah swt untuk selalu bertaubat atas segala kesahan yang pernah kita perbuat. Wallahu a’lam bis shawab.






June 26th, 2010 at 5:58 pm
Amin… Semoga kita semua ada dalam lindungan Allah SWT
[Reply]