Sebuah Kenikmatan Semu
Suku Eskimo yang mendiami kutub utara memiliki teknik yang unik untuk memburu srigala sebagai santapan hariannya. Mereka menggunakan pisau yang sangat tajam, lalu merendamnya didalam darah hewan lain. Darah yang menyelimuti pisau itu dibiarkan membeku. Selanjutnya pisau yang sudah dilumuri darah beku tersebut, ditanam didataran tinggi tempat srigala sering bermain. Pisau itu sendiri ditanam dengan dengan posisi bagian ujung (mata pisau) mencuat keatas.
Dengan trik seperti itu, acapkali srigala datang dan mengendus-endus bau darah yang menyelimuti pisau tersebut. Tentu saja, mata pisau yang tajam dengan sendirinya melukai lidah si srigala.
Walaupun demikian, udara yang dingin membuat sang srigala tidak merasa sakit, meski ia menjilati pisau yang tajam dan darahnya sendiri. Lama kelamaan srigala mati lemas, karena kehabisan darah. Selanjutnya sudah bisa ditebak! Suku Eskimo dapat dengan mudah membawa srigala itu untuk dijadikan santapan.
Perbuatan yang melanggar susila, moral, atau hukum pada awalnya sering mendatangkan kenikmatan. Akan tetapi, karena terlalu menikmati, tanpa disadari hal ini telah mematikan nilai kehidupan seseorang. Kenikmatan yang diperoleh pada saat itu hanyalah kenikamtan semu belaka, suatu saat nanti ia akan merasakan penyesalan akibat dari perbuatannya itu.
Kiranya setiap kita tidak ingin “kehabisan darah” hanya karena terlibat pada aktivitas yang medatangkan kenikmatan semu. Toh selama ini, mereka yang telah merasakan kenikmatan semu, yang ditawarkan dunia kejahatan akhirnya menemui penyesalan. Memang sekalipun tampaknya menghibur, namun melalui perbuatan yang salah seseorang pasti akan menemui penyesalan.
Itulah sebabnya bagi yang belum terlibat, pikirkan baik-baik. Apalagi bagi yang mulai “mengendus-endus”. Ada baiknya segera berpikir bahwa masih banyak hal lain yang bersifat halal serta bermoral.
Sedagkan bagi yang sudah mulai “menjilati”, berhentilah dan berbaliklah pada ajaran agama yang dianutnya. Ingatlah tentang peraturan menggali lubang, “Jika anda berada didalamnya, berhentilah menggali!”





